Ra'aitun Nabiyya sallallahu 'alaihi wa sallam

Rasulullah adalah sosok yang harusnya menjadi panutan kita. Sebagai umatnya, tentu saja kita berharap bisa bertemu dengan beliau suatu saat nanti, yaitu di Surga Allah. Namun, perjumpaan itu terasa masih lama untuk kita jika harus menunggu. Namun dengan izin Allah, Allah mampu mempertemukan kita dengan beliau lewat mimpi. Mimpi ini bukanlah mimpi biasa atau seperti kebanyakan mimpi lain. Mimpi ini adalah mimpi agung yang tidak semua orang bisa mengalaminya.

1. Kebenaran memimpikan Rasulullah
Rasulullah barsabda :
"Barangsiapa yang melihatku (di dalam mimpi) maka apa yang dilihatnya itu benar, karena setan tak bisa menyerupai diriku." (HR Bukhari).
"Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka ia seperti melihatku dalam keadaan terjaga. Setan tak bisa menyerupaiku." (HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hanbal).

2. Cara membuktikan sosok yang hadir di dalam mimpi adalah Rasulullah
a. Orang yang terlihat dalam mimpi mengaku bahwa ia adalah Nabi SAW.
b. Orang yang bermimpi mengetahui dan meyakini bahwa orang yang dilihatnya dalam mimpi adalah Nabi Muhammad SAW, tanpa ada yang memberitahunya.
c. Ada orang lain, baik ia melihat orang itu atau hanya mendengar suaranya, yang mengatakan bahwa orang yang ia (si pemimpi) lihat atau ajak bicara adalah Nabi SAW.

3. Berdusta ketika menceritakan mimpi
Rasulullah bersabda :
"Kebohongan yang paling buruk dan berbahaya adalah seseorang yang mengaku keduaa matanya melihat sesuatu (di dalam mimpinya), padahal ia tak melihat apa-apa." (HR Bukhari dan Ahmad)
Kemudian Rasulullah juga memberikan hukuman untuk pembohong ini dalam hadits nya:
"Barangsiapa yang mengaku memimpikan sebuah mimpi yang tidak ia mimpikan, maka ia diharuskan mengikat dua biji gandum, sedangkan ia takkan mampu melakukannya." (HR Bukhari)
Jika berbohong saja hukumannya seperti itu-mengikat dua biji gandum, yang menunjukkan sebuah ketidakmampuan, kehinaan, dan ancaman, maka bagaimana jika ia berbohong kepada Nabi (dengan mengatakan ia telah bermimpi bertemu Nabi, atau Nabi mengatakan atau memerintahkan melakukan sesuatu) ? Nabi bersabda :
"Sungguh, berdusta kepadaku tidak sama dengan berdusta kepada orang lain. Barangsiapa berdusta kepadaku dengan sengaja, hendaklah ia menyiapkan tempatnya di neraka." (HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad).


4. Mimpi dan hukum syari'at
Mimpi yang baik merupakan bagian dari kabar baik yang hendak diabadikan Allah SWT hingga hari kiamat, untuk meneguhkan jiwa, menenangkan hati, sebagai ucapan selamat yang didahulukan, dan kabar baik yang disegerakan..
Namun begitu, mimpi tak bisa dijadikan sebagai hukum syari'at, tapi hanya sebagai kabar gembira, karena syari'at telah sempurna sebelum Rasulullah wafat. [lih. Al Ma'idah : 3].
Jika kita melihat Rasulullah dalam mimpi kita, lalu beliau memerintahkan sesuatu, kita akan mempertimbangkannya. Jika yang diperintahkan sesuai syari'at, makaitu boleh dipercaya atau dilaksanakan. Namun jika berseberangan dengan syari'at,  maka mimpinya bisa ditakwil untuk dicari maknanya.
Imam Ibnu Sirin berkata dalam Fathul Bari', " Perkataan Nabi dalam mimpi harus disesuaikan dengan sunnah beliau. Jika perkataan itu sesuai dengan sunnah, maka hal itu benar. Jika tidak sesuai, maka yang didengar si pemimpi tidak benar."
 Ibnu Syahin berkata, "Barangsiapa yang bermimpi melihat salah seorang nabi dan ia memerintahkan sesuatu yang beseberangan dengan syari'at, maka perintah itu menjadi larangan, ancaman, dan rintangan bagi yang bermimpi. Hal itu senada dengan sabda Rasulullah SAW,
'Jika kamu tidak malu, maka lakukanlah apa saja yang kamu suka.' (HR Bukhari, Ahmad, dan Thabrani)."

5. Nabi SAW dapat dilihat dalam berbagai wujud
Dalam hal ini, para ulama berbeda pendapat, namun pada dasarnya ada dua kelompok :
Kelompok pertama, berpendapat bahwa Nabi SAW harus terlihat sebagai sosok beliau seperti ketika masih hidup, dengan segala ciri yang ada. Bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau harus terlihat dalam kondisi terakhir saat beliau wafat.
Kelompok kedua, berpendapat bahwa Nabi SAW dapat dilihat dalam wujud beliau sendiri atau bukan. Pendapat kelompok ini dilandaskan pada dalil dari Nabi SAW :
"Barangsiapa yang (bermimpi) melihatku, maka ia benar-benar melihatku." (HR Bukhari).
Pendapat kedua ini lebih kuat dan lebih valid, serta merupakan pendapat mayoritas ulama, baik salaf maupun khalaf.

6. Ketika seseorang memimpikan Rasulullah
a. Bersyukur kepada Allah SWT,
b. Melaksanakan perintah untuk taat kepada Allah SWT sebagai bukti syukur,
c. Tidak menyepelekan mimpi itu, juga tak boleh ragu atas mimpi itu,
d. Tidak menceritakannya kecuali kepada orang-orang yang baik, shalih/shalihah, dan penuh cinta (terutama kepada Rasulullah),
e. Semakin giat dan konsisten dalam beibadah,
f. Melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi SAW dalam mimpi (jika tidak berseberangan dengan syari'at),
g. Tidak boleh sombong atas mimpi itu, justru malah semakin tawadhu' setelah mendapatkannya,
h. Melakukan dzikir kepada Allah SWT,
i. Memperbaiki akhlaq,
j. Menghindari dosa dan sumber dosa.

7. Hikmah memimpikan Rasulullah
a. Kabar baik mengenai urusan duniawi maupun ukhrawi,
b. Keteguhan iman dan ketaatan,
c. Hidayah dan Islam setelah kesesatan dan kekafiran,
d. Perintah untuk melaksanakan seseuatu, demi kebaikan dirinya atau bahkan umat Muslim,
e. Larangan untuk melakukan sesuatu,
f. Menjelaskan hukum atas suatu persoalan yang mengundang keraguan, atau memutuskan hukum untuk persoalan yang sama sekali tidak diketahui,
g. Kabar tentang terjadinya sesuatu, baik yang telah terjadi ataupun belum,
h. Menghilangkan keraguan, melipur lara, dan meringankan beban yang diderita,
i. Menyembuhkan atau menghilangkan sakit,
j. Menjelaskan kedudukan dan mengenalkan pangkat,
k. Menenangkan rasa rindu dan meringankan penderitaan.

8. Takwil mimpi bertemu Rasulullah
Bermimpi baik tentang Rasulullah adalah kebaikan bagi si pemimpi, tapi memimpikan beliau dalam keadaan cacat fisik adalah pertanda jelek dalam hal keagamaan si pemimpi.
Melihat Rasulullah dengan karakteristik yang disebutkan dalam as sunnah adalah kabar baik bagi si pemimpi.
Orang yang memimpikan beliau ketika dalam kebingungan, Allah akan memberinya jalan keluar. Jika ia dipenjara, ia akan dikeluarkan dari penjara. Jika ia memimpikan Rasulullah ketika ia dikepung atau menjadi tawanan, ia akan dibebaskan. Jika ia dalam kondisi didzalimi, ia akan menang. Jika ia sedang takut, ia akan aman.
Jika ada seorang perempuan yang memimpikan Rasulullah, maka ia akan mencapai kedudukan yang tinggi, popularitas yang baik, mendapat penjagaan dan keturunan yang baik.
Jika ia bermimpi menyisir rambut dan jenggot Rasulullah, ia akan segera menemukan titik terang atas kebingungan yang dialaminya. Jika ia bermimpi melihat beliau di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, atau di tempat terkenal lainnya, ia akan mendapat kekuatan dan kemuliaan.
Jika ia bermimpi berjalan di belakang beliau atau menyalamai beliau, berarti ia telah melaksanakan sunnah beliau. Jika ia bermimpi darahnya bercampur dengan darah beliau, berarti ia akan menikah atau mendapat menantu orang mulia. Jika ia bermimpi melihat Rasulullah khotbah, ia akan menjadi penggerak amar ma'ruf nahi munkar. Jika ia memimpikan Rasulullah memberikan sesuatu, berarti ia mendapat ilmu dan mengikuti kebenaran, jika ia mengembalikannya, berarti ia terseret ke dalam bid'ah.

9. Tips memimpikan Rasulullah
a. Memperkuat keimanan dan keyakinan,
b. Banyak melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan keji,
c. Mencintai Rasulullah dengan tulus,
d. Berdo'a dan bermunajat kepada Allah,
e. Membaca dan mendengarkan kisah orang-orang yang pernah melihat atau memimpikan Rasulullah.

10. Contoh kisah memimpikan Rasulullah
Nabi membacakan (Al Qur'an) di mulut Nafi'

Ketika berbicara, dari mulut Nafi' Al Qari' akan selalu keluar wangi kasturi. Ada seseorang yang bertanya kepada Nafi', "Apakah kamu selalu memakai wewangian?"
Nafi' menjawab, Tidak. Aku tidak pernah menyentuh atau memakai wewangian, tapi aku bermimpi bertemu Rasulullah dan beliau membacakan Al Qur'an di mulutku. Sejak saat itu mulutku selalu mengeluarkan aroma wangi."

Sahabat, belum tentu orang yang memimpikan Rasulullah memiliki derajat yang lebih tinggi dari mereka yang belum pernah memimpikan beliau. Bisa jadi mimpi itu adalah peringatan atau larangan bagi si pemimpi. Sehingga kita harus melihat diri kita juga, apakah termasuk orang yang tergolong baik atau tidak, karena Rasulullah ibarat cermin bagi kita-dalam mimpi, yang mengindikasikan kebersihan hati kita. Karena itu, marilah kita sama-sama terus meningkatkan kualitas kebersihan hati kita, dan menjaga kedekatan kita kepada Allah.
Semoga kita kelak dikumpulkan dalam barisan-barisan orang-orang yang diridhaiNya. Semoga kita kelak menjadi bagian dari umat beliau yang menjadi kebangaan beliau. :')





Referensi :
Ra'aitun Nabiyya SAW; 100 Qishshah Haqiqiyyah Li Man Ra'au Nabiyya
Ta'thir Al Anam Fi Tafsir Al Ahlam

0 komentar :

Posting Komentar

Cancel Reply