Motivasi Kerja

Sedikit uneg-uneg aja sih. Kepikiran aja tadi waktu kuliah.

Jadi, hari ini aku ada kuliah kewirausahaan. Pada suatu ketika saat sesi kuliah, tiba-tiba otakku iseng mikir tentang kerja, ilmuwan, Jepang, peneliti, obat bius, cairan kimia, semen Holcim, kapur, dan motivasi kerja. Lalu aku sambung-sambungin dan aku komparasikan dengan kondisi di negeri sendiri.

Intinya begini, tadi ketika pak dosennya (dosennya jadi ngingetin aku sama ayahku) jelasin tentang motivasi berprestasi tinggi, inti dan inspirasi yang kudapatkan adalah jangan jadi orang yang biasa-biasa aja. Nah, lalu dosennya cerita bahwa ada kakak tingkat yang kerja di pabrik semen Holcim. Nggak cuma satu. Lalu dosennya juga bilang, jangan cari kerja di tempat kebanyakan orang cari kerja atau semacam itulah intinya, maksudnya kerjalah yang antimainstream dari kebanyakan tapi hebat. Nah, lalu lagi, aku mikir tentang pekerja di negara sendiri dengan pekerja di negara lain, misal Jepang. Lalu kesimpulan acakku adalah, mereka yang kerja di Indonesia ini, para pekerjanya kebanyakan berorientasi uang atau salary, gaji. Ini sudah mengakar di mindset jutaan manusia Indonesia, tak terkecuali orang tuaku, terkadang. Lalu kubandingkan dengan di negara Jepang. Mereka yang bekerja adalah bekerja dengan profesional dan demi ilmu pengetahuan, kalau ilmuwan. Liat aja kayak di film-film itu (walaupun kebenarannya abu-abu), kalau ilmuwan pasti bekerja siang-malam tanpa henti (majas hiperbola inih...) demi untuk terus berinovasi dan mengembangkan temuan-temuannya. Beda dengan orang-orang kita yang kebanyakan, sekali lagi saya katakan kebanyakan lho ya, sedikit nge-judge sih, mereka bekerja untuk penghidupan. yah walaupun memang ada faktor-faktor lain yang melatarbelakangi hal-hal seperti itu terjadi, misalnya seperti kesejahteraan. Namun saya abaikan itu untuk fokus pada satu hal, yaitu motivasi kerja. Banyak dari orang-orang kita yang kehilangan motivasi kerja sehingga orientasinya pun salah sejak awal. Berbeda dengan orang-orang di luar negeri sana, orang-orang di negara lain yang bekerja cekatan dan profesional serta pekerja keras. Agaknya inilah hal yang harus diluruskan.

Nyambung lagi, dapet inspirasi pagi tadi pas kajian. Orang yang bekerja keras diatas kakinya sendiri dengan profesional, dengan pegawai yang kerja ala kadarnya tapi gajinya besar, ketika membeli mobil, tentu akan lebih puas orang yang membelinya atas jerih payahnya. Perbedaannya cukup simpel tapi berat, yaitu di masalah keprofesionalitasan. Profesional dan ala kadarnya itu beda ya, ngerti kan?

Satu lagi, tadi pas kuliah dosennya juga ngomong, salah satu ciri orang yang punya motivasi berprestasi adalah mengambil pekerjaan dengan tingkat kesulitan sedang. Maksudnya adalah, begini, mahasiswa yang bisa ngambil maksimal 24 sks. 2 orang. Satunya ngambil full biar bisa cepet lulus, satunya ngambil 20 tapi dengan pertimbangan tingkat kesulitan dan sebagainya. Ternyata yang cepet lulus adalah yang ngambil 18 sks. Hal itu mungkin saja dan sangat mungkin terjadi karena yang 18 sks ini udah memprediksi dan menghitung tingkat kesulitan berikut waktu yang akan dihabiskan untuk menyelesaikan tuntutan sks agar lulus. Akhirnya yang terjadi adalah si 18 sks ini lebih optimal dalam kuliah daripada yang 24 sks. Karena kesulitan yang dihadapi tak sebanyak yang 24 sks sehingga dia bisa lebih fokus dan optimal.

Yang ingin saya katakan disini adalah, carilah motivasi yang tepat. Motivasi yang bisa benar-benar mendorongmu maju, bukan motivasi untuk gagah-gagahan saja. Karena sehebat apapun motivasi, jika tak berefek padamu, itu sama saja, sia-sia.

Cheers...!

0 komentar :

Posting Komentar

Cancel Reply