Selfiemu Harimaumu

Selfie, sebuah istilah baru yang kian populer di era gadget ini rupanya menyimpan berbagai cerita di baliknya. Sejak munculnya smartphone di tahun 2007, android kian ramai digunakan orang. Bahkan di tahun 2013, kegiatan selfie dengan smartphone ini kian marak dilakukan. Tak hanya anak muda, orang tua pun ikut juga melakukan kegiatan selfie.

Terlebih, kini beragam sosial media (sosmed) bertebaran di dunia maya. Jika dulu Facebook menjadi primadona untuk memamerkan hasil foto, kini aplikasi mobile-based lebih populer. Sebut saja instagram, aplikasi photosharing yang kini telah diakuisisi Facebook ini menjadi pilihan banyak kalangan untuk membagikan foto-foto mereka. Selain karena kemudahannya, kepopuleran instagram yang kian meroket dari tahun ke tahun membuat instagram menjadi pilihan utama untuk berbagi foto. Bahkan kini, menurut laporan dari Brand Development Lead Instagram APAC, terdapat 400 juta pengguna aktif instagram yang didominasi oleh pengguna dari Asia dan Eropa. Indonesia sendiri merupakan salah satu pengguna instagram terbanyak dengan 89% penggunanya adalah anak muda.

Agaknya tren mobile social media yang kian ramai setelah maraknya penggunaan smartphone ini menjadi salah satu faktor semakin ramainya aktivitas selfie yang diunggah di dunia maya. Hingga kini, selfie telah menjadi semacam aktivitas yang membudaya. Bahkan tak sedikit yang rela melakukan upaya besar demi mendapatkan foto selfie yang maksimal. Kelihatannya, perilaku selfie telah mempengaruhi tingkah laku keseharian kita. Jalan dikit, cekrek. Nongkrong sebentar, cekrek. Mau makan, cekrek. Sampai pura-pura candid, terus cekrek. Selfie telah merubah kita menjadi manusia narsis yang butuh pengakuan. Maka jika kita lihat di sosmed, instagram misalnya, kita akan banyak jumpai foto-foto selfie dengan latar yang sungguh memukau, misalnya gunung, pantai, dan tempat-tempat yang photo-able lainnya. Dan lucunya lagi, terkadang mereka yang melakukan selfie dilatarbelakangi hanya demi mencari ribuan likes dan followers. Dan bahkan yang lebih mengagetkan lagi, ternyata saya baru menyadari bahwa banyak sekali gadis-gadis cantik di negeri bernama Indonesia ini, mulai dari yang oblongan sampai hijaban, yang suka upload foto selfie, lalu diberi caption dengan kalimat indah memukau aduhai tapi nggak nyambung dengan fotonya. Maksudnya apa coba...


Semakin kesini, aktivitas selfie kian beraneka ragam. Mulai dari selfie biasa sampai selfie hitz. Dari selfie sendiri sampai selfie ramai-ramai (groufie). Dari selfie normal sampai selfie nyeleneh. Dan bahkan dari selfie beradab sampai selfie yang biadab. Semua kebanyakan dilakukan anak muda yang memang masa-masanya ingin eksis. Namun yang sangat disayangkan adalah, kini aktivitas selfie pun bisa mengancam nyawa. Sebenarnya ada dua hal yang disayangkan dari selfie, yang pertama jelas, selfie yang biadab itu. Biasanya dilakukan oleh orang-orang yang hilang urat malunya atau mencari sensasi, dan orang-orang yang kelainan orientasi. Tak hanya perempuan, laki-laki pun sama, meski kebanyakan memang perempuan. Biasanya mereka selfie dengan memamerkan bagian tertentu dari tubuhnya yang seharusnya tak perlu ditunjukkan. Bahkan mereka selfie dengan gaya yang seronok, zzzzz... Ini harus dihindari. Bahkan di-block atau dilaporkan jika perlu.

Yang kedua, yang tak kalah miris adalah bahwa selfie kini bisa menyebabkan kematian seperti yang saya katakan diatas tadi. Selfie kini sama berbahayanya dengan merokok, wkwk... Kalau slogan rokok, merokok membunuhmu, maka slogan selfie adalah selfie (bisa saja) membunuhmu. Hal itu bukanlah hal yang mengagetkan mengingat perilaku para selfie-ers (apasih namanya orang-orang yang suka selfie itu?)  yang terkadang kelewat nekat dalam berselfie. Jika kalian adalah orang-orang yang suka berada di dunia fana (baca: dunia maya, internet), terutama di sosial media, maka kalian akan pernah menjumpai ada orang-orang nekat yang berselfie di tempat yang tidak wajar. Sebut saja di puncak gedung. Di puncaknya loh ya, bukan di atap gedungnya, tapi puncak. Entah puncaknya berupa menara, tower, atau semacamnya. Ada juga selfie di atas patung, seperti yang mungkin pernah kita tahu, selfie di atas patung Christ the Redeemer di Rio de Janeiro, Brazil. Atau, selfie saat mengemudikan pesawat yang dilakukan oleh seorang pilot sebuah maskapai penerbangan. Atau yang lebih bodoh lagi, selfie saat dikejar banteng. Bahkan sampai ada juga astronot yang ikut-ikut berselfie di luar angkasa (kalau yang ini pengen, heheh...). Atau yang lebih parah lagi adalah, selfie saat melakukan thawaf saat ibadah haji di Makkah. Kebangetan.

Beberapa kegiatan selfie itu mungkin berhasil dan mendapat sambutan luar biasa di sosmed, namun ada juga selfie yang berakhir dengan tragis. Berikut beberapa kejadian diantaranya.

1. Jika kita pernah membaca artikel berita, belum lama ini ada seorang remaja putri yang meninggal setelah melakukan selfie. Namanya Xenia Ignatyeva. Remaja berumur 17 tahun asal Rusia. Kronologis singkatnya, remaja putri ini sedang berselfie di sebuah jembatan kereta api. Saat dia di atas, dia kehilangan keseimbangan dan terpeleset sehingga berusaha mencari pegangan. Tapi malangnya, pegangan yang dia raih adalah sebuah kabel bertegangan 1500 volt. Karena kaget, dia melepaskan kabel itu dan akhirnya terjatuh dengan membentur beton di bawahnya. Tewas seketika.

2. Ada juga yang berselfie sambil menodongkan pistol sungguhan ke kepalanya sendiri. Dialah Oscar Otero Aguilar, pemuda berusia 21 tahun yang saat itu sedang pesta miras di daerah sebelah utara Mexico City. Karena mabuk, dia tak sengaja menarik pelatuk pistolnya. Akhirnya dia tewas seketika.

3. Atau kasus selfie seorang perempuan 13 tahun bernama Karen Hernandez yang mengagumi keindahan sungai El Tunal di Mexico. Kemudian karena terlalu dekat dengan tepian sungai, dia terpeleset dan tercebur ke sungai. Tak bisa berenang, akhirnya dia tewas.

4. Ada juga seorang remaja bernama Ramon Gonzalez, seorang rapper asal Puerto Rico yang sedang mengendarai motor di New York dan kemudian berselfie. Karena tidak fokus, dia kehilangan kendali motornya dan ditabrak oleh mobil yang melintas. Berakhir dengan hilangnya nyawa.

5. Kemudian ada juga Ryan Dunn, salah satu bintang Jackass yang meninggal karena mabuk dan mengendarai mobil setelah sebelumnya berselfie ria dengan teman-temannya. Padahal mobil yang dikendarainya bagus, salah satu mobil sport, Porsche 911. Namun sialnya, di zona 55 mil perjam dia malah melaju dengan kecepatan 130 mil perjam hingga menabrak pagar pembatas jalan hingga menewaskannya.

6. Kemudian ada mahasiswi jurusan keperawatan asal Polandia, Sylwia Rajchel yang naik ke pinggiran pembatas jembatan Puente de Triana di Seville untuk sekedar mendapatkan angle pemandangan sungai yang bagus. Namun dia malah terpeleset dan jatuh membentur pondasi beton di bawahnya. Dia sempat dilarikan ke rumah sakit, namun karena parahnya kondisinya, dia tak tertolong.

7. Yang masih segar dalam ingatan kita mungkin adalah kematian seorang mahasiswa perguruan tinggi di Jogjakarta yang sedang mendaki gunung Merapi. Dialah Erri Yunanto, yang meninggal setelah terjatuh ke dalam kawah setelah sebelumnya berselfie di Puncak Garuda.

8. Ada juga seorang remaja asal Madiun, Tomi Luki Saputra, yang harus membayar dengan nyawanya setelah berfoto selfie bersama teman-temannya di pinggir rel kereta api. Dia terlambat menghindar saat kereta api Bangunkarta melintas sehingga dia tersambar kereta.

9. Dan terakhir, yang baru saja terjadi adalah, berakhirnya hidup seorang dokter hewan di kebun binatang Wonogiri di kaki hewan yang dirawatnya sendiri setelah dia berselfie dengan hewan tersebut. Dia terinjak gajah yang dirawatnya sendiri. Entah karena apa penyebabnya, gajah tersebut seperti hilang kendali dan berlari ke arahnya.

Semua kejadian yang disebutkan di atas memang takdir yang telah ditetapkan dan patut disayangkan. Namun di samping itu, ada faktor kelalaian yang membuat mereka harus menutup hidup dengan kesan yang tidak menyenangkan. Jika kita pahami, kebanyakan motif yang mereka lakukan dilatarbelakangi karena ingin eksis di sosmed, ingin mendapatkan pujian, likes, followers yang banyak, atau karena tepat momentum. Mereka ingin menunjukkan bahwa diri mereka bisa menjadi hitz, dengan menempuh cara yang tidak masuk akal. Seringnya, apa yang mereka lakukan tidak dibarengi dengan pertimbangan logis yang matang, sehingga tindakan mereka mendahului pikiran. Hal inilah yang jadi problem orang zaman sekarang, dan bahkan masalah selfie yang berujung kematian ini membuat pusing beberapa pemerintah di berbagai negara hingga ada yang membuat pengumuman peringatan berkaitan dengan selfie. Sebuah survey yang dilakukan tim peneliti dari Universitas Ohio menemukan fakta bahwa selfie ekstrim lebih mematikan daripada serangan hiu di lautan. Seperti dilansir dari viva.co.id, pada 2015, angka kematian yang diakibatkan kebiasaan selfie ekstrim sudah mencapai 12 kasus. Itu berbeda di atas angka kematian karena gigitan hiu yang hanya 8 kasus. Penelitian itu juga menyatakan bahwa orang yang suka berselfie cenderung memiliki tanda-tanda psikopat dan level narsis tinggi. Selain itu, secara psikologis, mereka yang sering melakukan selfie dan memamerkan hasil jepretan wajahnya di sosmed, menurut para ahli menunjukkan sifat egois dan haus perhatian.

Saya sendiri sebenarnya heran dan bingung, ketika berselfie, apasih yang sebenarnya mereka cari? Saya rasa manusia zaman sekarang banyak yang mulai mengalami perubahan drastis dalam diri mereka. Dan saya rasa, terkadang ada kesalahan alur berpikir dalam otak mereka yang menyebabkan apa yang mereka lakukan menjadi tidak sinkron dengan apa yang seharusnya dilakukan. Pertimbangan mereka menjadi dangkal karena mengejar sesuatu yang sebenarnya tak berarti banyak. Welcome to the Era of Gadget. Dan inilah kita, generasi bangsa yang dihadapkan dengan sebuah problem miris yang sebenarnya sepele, namun menjangkiti jutaan jiwa-jiwa anak muda saat ini, dimana rasa ingin diakui, ingin eksis, lebih tinggi daripada logika berpikir yang logis. Dan salah siapakah ini? Salah produsen smartphone kah? Salah bea cukai kah? Salah gubernur kah? Atau salah Ahok dan Jokowi?  Tidak. Inilah kesalahan masing-masing kita yang tidak bisa memfilter perilaku dan serba ingin mengikuti arus dan menjadi yang paling; paling hitz, paling keren, paling gaul, dan sebagainya. Sekali lagi, saya menyimpulkan adanya kesalahan berpikir ini murni berasal dari diri sendiri, dan akarnya adalah pada frasa: ingin diakui. Entah itu sekarang menjadi kebutuhan atau candu bagi remaja masa kini, namun sebaiknya kontrollah diri sendiri agar tidak dikit-dikit cekrek. Karena selain itu alay, akan selalu ada manusia-manusia waras di sekitar kalian yang akan menganggap kalian annoying dan ndeso dengan aktivitas cekrak-cekrek kalian itu. Sekali lagi, kontrollah diri. Jangan sampai hanya karena ingin like, comment, and share kemudian kalian menggadaikan logika berpikir sehat kalian. Selfie boleh saja, tapi sadar lingkungan. Sadar diri. Sadar usia. Sadar tugas, Sadar skripsi #eh. Sadarlah sesadar-sadarnya, bahwa cekrak-cekrek itu hanya sejumput bumbu micin di lautan kuali mie ayam. Kalau kebanyakan nggak enak dan nggak sehat. Dan lagi, apakah hidup kalian cuma untuk selfie? Padahal setelah selfie, kalian akan upload foto itu setelah melewati berbagai filter instagram yang macem-macem agar kelihatan lebih waw gituh. Bukankah sama saja kalian membohongi publik? Selfie itu boleh, tapi yang wajar saja, dan jangan berlebihan. Karena ingatlah, selfiemu harimaumu. Auuumm...

Saya sendiri, daripada berselfie, lebih suka melakukan manipulasi foto karena lebih bebas dan luas tanpa batasan dalam melakukannya. Bahkan hukum gravitasi dan waktu takkan berjalan dalam dunia manipulasi, haha... Jadi, saran saya, ketimbang melakukan aksi gila selfie hanya demi mendapatkan angle atau jepretan foto yang bagus namun membahayakan nyawa, lebih baik minta kepada ahli editing foto untuk membuat sebuah foto yang lebih menarik, walaupun hanya sekedar retouching saja. karena dalam memanipulasi foto, disitulah imajinasi kita bisa terwujud dalam sebuah karya. Dan lagi, hasil dari proses editing foto tersebut bisa juga menjadi sebuah karya seni yang indah dan bernilai tinggi, asal kita tahu dan tepat dalam memilih orang yang dimintai tolong, dan kalau bisa, jangan lupa dibayar, hehe, karena tak ada desain yang gratis kecuali di alam mimpimuuu...~

0 komentar :

Posting Komentar

Cancel Reply