Broken Heart

Patah hati? Ah, entah tiba-tiba aku menuliskan ini. Tak tau apa yang membuatku terlintas pikiran ini, tapi satu hal, itu adalah pengalaman pendewasaan diri. Seseorang yang patah hati, ia akan berada di persimpangan dua jalan. Antara 1) dewasa dan 2) cengeng, kekanak-kanakan, alay, mendramatisir, atau semacamnya. Pilihan pertama, tentu dengan patah hati itu ia menjadi rasional, memikirkan bahwa tak hanya ada satu laki-laki atau wanita di dunia ini. Banyak, ada banyak yang bahkan lebih baik. Atau, ia merupakan pelatihan mental, jiwa, perasaan agar menjadi lebih kokoh, tegar. Ia akan terus melatih dirinya untuk berlapang dada dan menerima kenyataan. Tak perlulah berlarut-larut, karena mentari akan selalu terbit dari gelapnya malam. Selalu ada jalan keluar dari setiap solusi, itu keyakinannya. Jika satu tak menerima, maka ada ribuan bahkan jutaan hati yang menunggu terisi. Jadi tak ada alasan untuk bertingkah lembek setelah itu.

Pilihan kedua, ia menjadi semakiiiiiiiiiiinn melankolis. Status FB galau, tweet galau, postingan blog galau, sampe hasil ujian pun ikutan galau. Ia tak tau hakikat sebenarnya tentang cinta; cinta sejati takkan mengekang, ia akan membiarkan bebas memilih, ia takkan meleset. Ia tak menemukan itu dalam dirinya. Ketika seseorang meninggalkannya, atau mencampakkannya, atau bertepuk sebelah tangan, ia menjadi tak terima, kenapa harus berakhir begini... Ia menyesal mengorbankan perasaannya pada jiwa yang mengharapkannya. Ia merasa usahanya sia-sia. Arah berjalannya tak menentu kembali setelah ia merasa dituntun ke suatu jalan yang lebih penuh arti. Namun satu hal yang ia terlupa, apakah itu suatu cinta? Atau mungkin itu hanya sebuah bentuk rasa posesif? Ia tak tau bedanya.

Bicara tentang patah hati, geli juga kalo pertanyaan 'pernahkah kamu patah hati?' kutanyakan pada diriku sendiri. Secara, ini agak membingungkan, tapi ya sudahlah...

Aku pernah. Mungkin. Nggak tau juga sih itu, apa bener namanya patah hati itu seperti itu. Dulu, aku pernah suka sama seseorang. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang. Bukan! Semua berubah sejak aku masuk sekolah tingkat 3. Mungkin, seingatku saat itu tahun kedua. Ya, di kelas bertembok hijau itu, dalam bentuk heksagonalnya, semua bermula. Hingga suatu saat, entah kenapa tiba-tiba aku dan temanku ini saling diam saat masalah ini (yang berhubungan dengan seorang perempuan). Entah, karena tiba-tiba benci, atau salah tingkah masing-masing kita. Aku ingin bicara, tapi tak bisa. Kelu. Hmmm, apa yang terjadi, ada apa denganku? pikirku. Tapi ya sudahlah, meski begitu, seiring waktu kami normal lagi. Namun sejak itu, aku jadi merasa illfeel kalo bicara, apalagi di dekatnya dan membahas masalah itu. Jadi kuputuskan untuk menyimpannya dalam-dalam, sedalam hatiku tanpa harus kugali lagi suatu saat nanti.

Tahun ketiga, aku lalu lulus. Tak merasa. Tak apalah. Semua sudah lewat. Kemudian aku masuk sekolah tingkat berikutnya. Awal-awal, di tahun pertama, teman-temanku mengenalku masih dengan kenangan lama itu. Meski begitu, aku tau apa yang sebenarnya terjadi, bertepuk sebelah tangan, itu dugaan kuatku. Hahaha, tak masalah, toh sekarang hatiku sudah kebal, atau mungkin membeku dengan hal itu.

Di tahun kedua itu, aku mulai merasa ada yang berbeda dengan hatiku. Ada perasaan baru muncul. Semakin lama kuperhatikan, eh ternyata kejadian lagi. Kok bisa??? Ah tak taulah... Dalam satu organisasi pula mungkin yang membuatku semakin bertambah rasanya. Tapi awalnya aku benar-benar cuek, bahkan berkata dengan kolotnya, mereka semua gak ada yang menarik. Kualat deh! Semua benar-benar telah terbalik. Hingga sekarang pun, kurasa dirinya takkan pernah menyadari ini. Mungkin, aku tak tau juga. Tapi biarlah, tau atau enggak itu bukan urusanku. Urusanku sekarang adalah menyelesaikan tulisan ini sampai titik koma terakhir. Oya, ngomong-ngomong, ada yang tau obat jerawat yang ampuh nggak?

Memang akan menjadi hal yang merepotkan jika hati kita telah terlanjur memilih seseorang untuk menjadi someone special dalam hidup kita, karena ketika ia pergi dari hadapan kita, ia akan membawa serta semua perasaan kita. Akhirnya kita akan menjadi manusia yang kehilangan perasaan seperti anak yang kehilangan orang tuanya di mall, toko, pasar, atau tempat keramaian lainnya. Kemudian datanglah galau tak berujung itu, yang hanya bisa ditepis dengan ketegaran hati. Saranku, jika kamu suka seseorang, maka pendamlah sedalam-dalamnya, karena tak ada gunanya disampaikan ke khalayak kalo kamu belum siap menanggug bebannya. Kesalahan fatalku adalah, teman-temanku terlalu berkoar-koar dalam masalahku ini, padahal mereka tak mengerti seperti apa yang ada di dalam hatiku. Tch!!

Berawal dan berakhir tidak jelas. Itu saja untuk saat ini. Karena kejelasan saat ini pun tak membawa apa-apa untuk diriku. Biarlah kabut tetap menyelimuti sampai datangnya mentari yang cerah.

Untukmu, berjuanglah. Banyak masalah yang lebih besar dibanding hal ini. Jangan melow, jangan jadi orang lembek. Masalah akan selalu menantimu. Salam semangat!

3 komentar :

Aku patah hati yo biasa wae. :D
kayak baca buku diari ini mah...
-__-

waduh diwoco akhwat...

Posting Komentar

Cancel Reply